Wednesday, September 5, 2007

Nasib itu Tidak Bisa Dinalar Dengan Logika

Nasrudin sedang berjalan-jalan dengan santai, ketika tanpa permisi ada orang jatuh dari atap rumah dan menimpanya. Orang yang terjatuh itu tidak terluka sama sekali, tetapi Nasrudin yang tertimpa malah menderita cedera leher. Ia pun diangkut ke rumah sakit.

Para tetangganya datang menjenguknya, mereka bertanya, "Hikmah apa yang didapat dari peristiwa itu, Nasrudin?"

"Jangan percaya lagi pada hukum sebab akibat," jawabnya. "Orang lain yang jatuh dari atap rumah, tetapi leherku yang jadi korbannya. Jadi tidak berlaku lagi logika, 'Kalau orang jatuh dari atap rumah, lehernya akan patah!'"

Sufi Menjual Kambing

Suatu malam seorang ulama Sufi bermimpi bahwa ia sedang menjual seekor kambing yang gemuk.

"Berapa harga kambing ini ?" tanya seorang calon pembeli.

"Dua belas dinar." kata sang sufi.

"Tujuh dinar."

"Tidak boleh."

"Delapan dinar."

"Tidak boleh."

Ketika tawaran mencapai sembilan dinar, sang sufi terbangun dari tidurnya. Ia membuka kelopak matanya dan mengusapnya. Tak seekor kambingpun ia lihat. Pun tak ada calon pembeli. Cepat-cepat ia memejamkan matanya lagi sambil berkata.

"Kalau begitu, baiklah, sembilan dinar boleh kamu ambil."

Mulai Kursus Musik

Pada suatu hari Nasrudin mendengar ada seorang muda yang bisa bermain musik dengan amat bagus. Ia pun tertarik untuk belajar musik.

Keesokan harinya, ia pergi ke kota dan menemui guru musik kenamaan. "Tuan, saya ingin belajar musik, berapa bayarannya?"

Guru itu sejenak melihat wajahnya, sebelum akhirnya menjawab, "Murid-muridku membayar tiga dirham untuk bulan pertama, dan kemudian untuk tiap bulan berikutnya membayar satu dirham. Nasrudin berpikir sejenak dan kemudian berkata,

"Baiklah," katanya, "Saya akan mulai kursus pada bulan kedua saja."

Tuesday, September 4, 2007

Cara Membedakan TNI Angkatan Udara, TNI Angkatan Laut, dan TNI ANgkatan Darat

Ada 2 orang sahabat sedang mengobrol-obrol sejenak,

Anto : "Eh, loe kan tahu ya bangsanya militer gitu, loe kan sering baca majalah militer, lu tahu ga ciri-ciri yang paling gampang diliat TNI angkatan udara, laut dan darat."

Fakhri: "Itu mah gampang, coba aja orang itu lu tolong kalo dia jawab 'Terima kasih yang setinggi-tingginya' berarti dia angkatan udara, kalo 'Terima kasih yang sedalam-dalamnya' berarti angkatan laut, kalo 'Terima Kasih yang seluas-luasnya' berarti angkatan darat..."

Anto: "????"

Permintaan Terpidana Mati Sebelum Dieksekusi

Pada suatu hari seorang terpidana akan di eksekusi hukuman mati karena terbukti bersalah melakukan pembunuhan berantai.

Sebelum terpidana tersebut di eksekusi oleh regu penembak, seorang kepala regu penembak menanyakan permintaan terakhir sang terpidana.

"Apa permintaan terakhir kamu sebelum ditembak mati?" tanya kepala regu pada terpidana.

"Tolong senapannya diarahkan ke orang lain, Pak!" jawab sang terpidana.

Penjaga Palang Rel Kereta Api Diadili

Suatu malam kereta api yang sedang melewati persimpangan menabrak sebuah mobil. Sang penjaga palang pintu kereta dihadapkan ke pengadilan.

Di pengadilan sang penjaga palang ngotot mengatakan bahwa dia sudah memperingatkan mobil itu dengan mengayun-ayunkan lampu senter ke arah mobil itu berkali-kali selama hampir satu menit. Bahkan di depan sidang dia berdiri memperagakan bagaimana lampu senter itu diayun-ayunkannya.

Akhirnya dia dibebaskan dari hukuman.

Pengacaranya segera memuji dia karena peragaannya di depan sidang itu meyakinkan hakim bahwa dia sudah bertindak benar.

"Uiiihhh... padahal saya sudah deg-degan setengah mati waktu disidang tadi," kata sang penjaga palang.

"Kenapa?" tanya si pengacara

"Kalau saja hakim bertanya apa waktu saya ayun-ayunkan lampunya senternya lagi nyala apa tidak...!" jawab si penjaga palang agak sedikit gemetar.

Gak Sampe Kulitnya Ngelupas


Pembantu ketemu kondom bekas lalu tanya: “Nyonya, ini apa??”

Nyonya: “Kalian orang desa gak pernah main cinta!!”

Pembantu: “Pernah nyonya, cuma gak sampe kulitnya ngelupas!”